Setelah pasar finansial global naik turun tajam bagaikan roller coaster pekan lalu, investor memiliki rutinitas harian baru - memeriksa penetapan kurs harian Yuan Tiongkok. Langkah pemerintahan Trump untuk melabeli Tiongkok sebagai manipulator mata uang tidak didukung oleh IMF maupun G7. Karena itu, faktor fundamental akan memengaruhi pergerakan mata uang Tiongkok ke depannya, dengan sedikit intervensi dari pemerintah untuk memperkuat mata uang. Penjualan ritel, produksi industri, dan investasi aset tetap akan dirilis hari Rabu, diikuti harga rumah di hari Kamis dan penanaman modal asing langsung pada hari Jumat. Pasar memperkirakan beberapa rilis data mendatang akan menampilkan penurunan, dan jika benar, Yuan akan semakin melemah di pekan mendatang. 

Yuan hari ini ditetapkan pada 7.0211 per Dolar, lebih kuat dari ekspektasi pasar, mengindikasikan bahwa pemerintah Tiongkok tidak mengikuti rute penurunan mata uang secara terus menerus. Ini mendukung pasar saham Asia di Senin pagi. Indeks Komposit Shanghai menguat 0.6% pada saat laporan ini dituliskan.

Pembatalan negosiasi dagang

Pada hari Jumat, Presiden Trump mengatakan bahwa negosiasi dagang putaran berikutnya yang dijadwalkan untuk berlangsung pada bulan September antara AS-Tiongkok mungkin dibatalkan. Komentar Trump menjadi sinyal terang benderang bahwa konflik dagang antara dua ekonomi terbesar dunia masih jauh dari rampung.

Ketegangan dagang terancam semakin panas ke depannya. Waktu semakin sempit, dan saham masih tinggi, sehingga peluang koreksi substansial relatif tinggi.

Di sepanjang tahun ini, banyak investor yang menggunakan strategi "buying the dips" atau membeli aset yang harganya merosot, dan sebagian besar software algoritmik diprogram untuk bekerja seperti itu. Namun jika kekhawatiran resesi terus memburuk, kekuatan bank sentral pun akan terbatas. Oleh sebab itu, investor harus terus memantau ketegangan dagang AS-Tiongkok.

Data ekonomi penting pekan ini

Setelah kejutan kontraksi PDB Inggris di hari Jumat, investor akan mencermati data pertumbuhan ekonomi terbesar Eropa. Ekonom memprediksi PDB Jerman turun 0.1% di kuartal kedua. Walau data pertumbuhan dianggap sebagai indikator lagging, ketegangan dagang tanpa ujung antara AS-Tiongkok akan terus memberi tekanan pada ekonomi berbasis ekspor. Keyakinan bisnis terpukul sangat kuat belum lama ini, sehingga investasi mungkin akan berkurang. Pelonggaran kebijakan moneter oleh ECB hanya akan berdampak kecil untuk mencegah resesi di Jerman.

Penjualan ritel AS dan Inggris juga akan menarik perhatian investor. Penjualan ritel AS diperkirakan meningkat 0.2% saja di bulan Juli, setelah menguat 0.4% pada bulan sebelumnya. Ini akan menjadi data paling lemah dalam lima bulan terakhir. Jika data terus memberi kejutan negatif, ini dapat menjadi indikator kuat bahwa siklus ekonomi sedang sangat terancam. Sementara itu, penjualan ritel Inggris diperkirakan anjlok 0.3% di bulan Juli setelah memberi kejutan dengan menguat 1% di bulan Juni.

Pasar juga akan mengamati data inflasi AS dan Inggris; pertumbuhan, neraca perdagangan, tenaga kerja, dan produksi industri Zona Euro; data lapangan kerja Inggris Raya dan Australia. Semua rilis data ini akan memberi isyarat mengenai keadaan ekonomi global saat ini.

Sanggahan: Isi dari artikel ini terdiri dari pendapat-pendapat pribadi dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berupa nasihat investasi pribadi dan/atau lainnya dan/atau suatu penawaran dari dan/atau permohonan untuk transaksi pada instrumen keuangan dan/atau sebuah jaminan dan/atau prediksi atas kinerja di masa depan. ForexTime (FXTM), para afiliasinya, agen, direktur, petugas atau pegawainya tidak memberikan jaminan atas akurasi, keabsahan, batas waktu atau keutuhan dari informasi atau data yang disediakan dan tidak memikul tanggung jawab atas semua kerugian yang dapat timbul dari segala investasi yang didasarkan pada hal tersebut.